Banyuwangi – Ankasapost.Id // Raden Teguh Firmansyah, aktivis filsafat logika berpikir, melontarkan kritik pedas terhadap Kepala Desa Kabat, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, Mislani, yang dinilai telah kehilangan rasa kemanusiaan dalam memimpin masyarakat.
Senin 25-Mei-2026
Menurut Raden Teguh, jabatan kepala desa bukan tempat untuk mempertontonkan kekuasaan, apalagi menyakiti rakyat kecil yang seharusnya dilindungi. Ia menilai, ketika seorang pemimpin sudah tidak memiliki empati dan hati nurani, maka keberadaannya di kursi jabatan hanyalah menjadi beban bagi masyarakat.
“Kalau rakyat kecil sudah merasa diperlakukan tidak manusiawi oleh pemimpinnya sendiri, itu tandanya ada kerusakan moral dalam kepemimpinan tersebut. Pemimpin tanpa hati nurani bukan lagi pelayan rakyat, melainkan petaka bagi masyarakatnya sendiri,” tegas Raden Teguh.
Ia juga menyindir keras sikap pejabat di atasnya yang dianggap terlalu diam dan membiarkan polemik terus terjadi.
“Yang lebih memalukan bukan hanya perilaku kepala desa itu sendiri, tetapi ketika Camat dan Bupati terlihat seolah tutup mata. Jangan sampai rakyat berpikir bahwa pemimpin seperti itu sengaja dipelihara karena dianggap menguntungkan kekuasaan,” ujarnya tajam.
Raden Teguh menilai, jika pemerintah daerah benar-benar berpihak kepada rakyat, maka keberanian mengambil tindakan tegas harus dibuktikan, bukan hanya bicara soal pelayanan dan kemanusiaan di depan publik.
“Kalau seorang kepala desa diduga sudah mengkhianati rasa keadilan masyarakat, lalu tetap dipertahankan, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan moral pejabat di atasnya. Karena diam terhadap ketidakadilan juga bagian dari pengkhianatan terhadap rakyat,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa rakyat hari ini tidak butuh pemimpin yang hanya pandai menjaga jabatan dan pencitraan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir dengan akal sehat dan bekerja dengan hati nurani.
“Jangan sampai kursi jabatan dijadikan tameng kesombongan. Sebab kekuasaan yang kehilangan moral pada akhirnya hanya akan dikenang sebagai penghinaan terhadap rakyat kecil,” tutup Raden Teguh Firmansyah.
“Ketika hati nurani mati dalam diri seorang pemimpin, maka penderitaan rakyat hanya dianggap angin lalu.”
( Ined )






