Sidoarjo-Ankasapost,Di balik layar ponsel yang hampir selalu berada di genggaman, ada dunia yang penuh peluang sekaligus menyimpan berbagai ancaman. Bagi sebagian remaja, ruang digital menjadi tempat mencari informasi, membangun pertemanan, hingga mengekspresikan diri. Namun, tanpa pengetahuan yang cukup, dunia maya juga dapat menjadi ruang munculnya risiko seperti grooming dan cyber harassment yang mengancam keamanan serta kesehatan psikologis mereka.
Menyadari tantangan tersebut, tim Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPN Jatim) hadir di Desa Geluran, Sidoarjo, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Pencegahan Grooming dan Cyber Harassment pada Remaja di Desa Geluran Sidoarjo Guna Meningkatkan Literasi Keamanan Digital dan Keterampilan Perlindungan Diri.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 29 Juli 2026, dengan melibatkan puluhan remaja warga Desa Geluran sebagai peserta utama.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para remaja untuk memahami bahwa keamanan digital bukan hanya tentang menjaga kata sandi atau akun pribadi, tetapi juga tentang kemampuan mengenali ancaman, membangun batasan dalam berinteraksi, dan berani mengambil tindakan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
Perkembangan teknologi membuat interaksi sosial semakin mudah dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Melalui media sosial dan berbagai platform digital, seseorang dapat berkomunikasi dengan siapa saja. Namun, kemudahan tersebut juga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan, terutama terhadap kelompok usia remaja yang masih berada dalam tahap perkembangan diri.
Dalam kegiatan ini, tim UPN Jatim memberikan edukasi mengenai bahaya grooming, yaitu tindakan manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membangun kedekatan dengan korban dengan tujuan tertentu, termasuk eksploitasi. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman tentang cyber harassment atau pelecehan di dunia maya yang dapat berupa penghinaan, ancaman, penyebaran informasi pribadi tanpa izin, maupun tindakan lain yang merugikan korban.
Melalui penyampaian materi yang komunikatif, para remaja diajak memahami bahwa tidak semua orang yang hadir di ruang digital memiliki niat baik. Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan penting agar mereka tidak mudah percaya terhadap orang asing yang ditemui melalui internet.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, yaitu Reiga Ritomiea, S.E., M.M.; dr. Damba Bestari, S.p., K.J.; dan Dr. Endang Sholihatin. Ketiganya memberikan sudut pandang yang saling melengkapi mengenai keamanan digital dari aspek sosial, kesehatan mental, hingga komunikasi.
Reiga Ritomiea membahas pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi serta bagaimana remaja dapat membangun perilaku digital yang lebih bijak. Sementara itu, dr. Damba Bestari memberikan pemahaman mengenai dampak psikologis yang dapat muncul akibat pengalaman buruk di dunia maya, seperti tekanan emosional, kecemasan, dan gangguan kepercayaan diri.
Dari sisi komunikasi, Dr. Endang Sholihatin menekankan pentingnya kemampuan berkomunikasi secara sehat dan memahami penggunaan bahasa di ruang digital. Menurutnya, kata-kata yang disampaikan melalui internet memiliki dampak nyata bagi orang lain sehingga setiap individu perlu bertanggung jawab terhadap jejak digital yang dibuat.
Reiga Ritomiea, S.E., M.M. menyampaikan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti dengan peningkatan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda.
“Remaja saat ini adalah generasi yang paling dekat dengan teknologi. Karena itu, mereka tidak cukup hanya mampu menggunakan media digital, tetapi juga harus memahami bagaimana menjaga keamanan diri dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital,” ujar Reiga.
Selain melakukan pelatihan teknologi, kegiatan ini juga menyoroti bagaimana komunikasi dan kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan pengalaman seseorang di dunia digital.
dr. Damba Bestari menjelaskan bahwa pengalaman buruk di dunia maya dapat memberikan dampak psikologis bagi korban. Tekanan, rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, hingga kecemasan dapat muncul ketika seseorang mengalami pelecehan digital.
“Yang paling penting adalah remaja memahami bahwa ketika menghadapi masalah di dunia digital, mereka tidak perlu merasa sendiri. Ada orang yang bisa dipercaya untuk membantu, baik keluarga, guru, maupun lingkungan sekitar,” ungkap dr. Damba.
Sementara itu, Dr. Endang Sholihatin memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang baik dalam komunikasi digital. Menurutnya, setiap kata yang ditulis di ruang digital memiliki dampak terhadap orang lain.
“Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan sikap seseorang. Karena itu, kemampuan berkomunikasi secara sehat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan digital yang aman,” jelas Dr. Endang.
Bagi para peserta, kegiatan ini memberikan pengalaman baru tentang bagaimana menggunakan teknologi secara lebih bijak. Salah satu peserta, Amanda, mengaku sebelumnya belum memahami bahwa tindakan sederhana di media sosial dapat membawa risiko.
“Sebelumnya saya berpikir bahwa bahaya di internet hanya seperti akun palsu atau penipuan. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi tahu bahwa kita juga harus berhati-hati ketika berkenalan dengan orang baru dan membagikan informasi pribadi,” kata Amanda.
Hal serupa disampaikan Kayla, peserta remaja Desa Geluran lainnya. Menurutnya, materi yang diberikan membuat dirinya lebih memahami pentingnya menjaga batasan dalam menggunakan media sosial.
“Saya menjadi lebih sadar bahwa tidak semua orang yang terlihat baik di internet benar-benar memiliki niat baik. Sekarang saya lebih berhati-hati dalam menerima pesan atau membagikan sesuatu di media sosial,” ujar Kayla.
Tidak hanya menerima materi, para peserta juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai pengalaman dan fenomena yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pesan mencurigakan dari akun tidak dikenal, tekanan dari lingkungan media sosial, hingga bagaimana menghadapi komentar negatif di internet.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Puluhan remaja Desa Geluran aktif mengikuti diskusi dan menyampaikan pertanyaan terkait permasalahan yang mereka hadapi dalam penggunaan media digital. Hal tersebut menunjukkan bahwa isu keamanan digital bukan lagi menjadi persoalan yang jauh, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Melalui kegiatan ini, tim UPN Jatim berharap para remaja tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Literasi digital menjadi bekal penting agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengabaikan aspek keamanan dan perlindungan diri.
Pengabdian masyarakat di Desa Geluran menjadi langkah kecil untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. Sebab, menjaga ruang digital bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda yang menjadi pengguna terbesar teknologi saat ini.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan melindungi diri menjadi benteng utama. Karena pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung kehidupan manusia, bukan ruang yang membuat se
seorang kehilangan rasa aman.





